Indonesia Creative Cities Conference 2017 : Bersinergi Membumikan Kreativitas

Jejaring Kota Kreatif Indonesia atau Indonesia Creative Cities Network (ICCN) adalah ajang berkumpulnya para insan industri kreatif baik pelaku, komunitas kreatif, akademisi, maupun pemerintahan kota kreatif di Indonesia. Pada ICCC pertama di Solo, dideklarasikan berdirinya ICCN (Indonesia Creative Cities Network) atau disebut Jejaring Kabupaten-Kota Kreatif Indonesia sebagai dasar dalam pengembangan kota kreatif di Indonesia.

Setelah dua kali penyelenggaraan ICCC (Indonesia Creative Cities Conference ) sebelumnya sukses digelar,  yaitu yang perdana pada tahun 2015 di kota solo dan di kota malang pada tahun 2016. Di tahun 2017 ini, ICCC kembali dihelat untuk mempertemukan pelaku – pelaku industri kreatif dari seluruh penjuru tanah air. Kota makassar didaulat untuk menjadi tuan rumah event bergengsi tahunan ini. Konferensi kota kreatif ini berlangsung selama 5 hari dan digelar dari tanggal 6 – 10 september 2017. Acara ini bersamaan dengan Makassar International Eight Festival & Forum 2017.

ICCC kedua di Malang lebih pada penguatan kerjasama antar stake holder, terutama dari pihak birokrasi/pemerintah kota/kementerian/lembaga, yang terutama kerjasama dengan BEKRAF sebagai leading sector-nya, Kemenko Perekonomian dan Kementerian Pariwisata juga ikut bersinergi dan berkolaborasi dalam ICCC Malang tersebut. Dan peran penting Pemkot Malang sebagai tuan rumah, serta kelahiran MCF (Malang Creative Fusion) sebagai komunitas kota kreatif Malang yang berkembang sangat pesat, hal yang sangat menggembirakan karena berdampak dan bermanfaat pada masyarakat kotanya, impian kota-kota kreatif Indonesia dan men-stimulan lahir dan tumbuhnya komunitas-komunitas kota kreatif lainnya di Indonesia.

Pada ICCC ketiga di Makassar ini, penguatan di kelembagaan atau antar kelembagaan diharapkan lebih lengkap dan menyeluruh ,serta ikut aktif menginisiasi lahirnya Forum Akademisi komunitas kota kreatif Indonesia, Jelas Ketua ICCC, Paulus Mintarga.

ICCC 2017 kali ini didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif, Kementrian Koordinator Perekonomian dan Kementrian Pariwisata Republik Indonesia. ICCC 2017 digelar untuk memicu penyelenggaraan kota kreatif di Indonesia. Setiap kota atau kabupaten diharapkan dapat menghadirkan karya dan produk unggulan mempersiapkan diri dalam program Masyarakat Ekonomi ASEAN, terlebih untuk global.

Dipilihnya kota Makassar sebagai tuan rumah ICCC 2017 bukan tanpa alasan. Makassar mempunyai banyak keunggulan, salah satunya karena Makassar berada di pusat Indonesia. Kota ini juga dianggap sebagai “living room” Kawasan Indonesia Timur yang konsep kreatifitasnya mulai berkembang pesat.

Acara yang digelar di Hotel Gammara Makassar tersebut berlangsung selama lima hari. Beragam acara seperti Pembahasan dalam konferensi bertajuk Kolaborasi Komunitas Kreatif, Kajian Akademis Kota Kreatif, Strategi Implementasi Pengembangan Kota Kreatif, dan berbagai acara lainnya.

Pertunjukan yang dipersiapkan Main Stage Pantai Losari, Makassar Stage, Theatrical Performance : Horsemen, Anggaru, & Pamanca dances. Selain itu, di hari-berikutnya terdapat Carnival, Fashion Show, Fiction Writer and International Performance, serta aneka Workshop Kreatif.

Pada ICCC tahun ini, Direktur Sekolah Lurah UII, Dr. Yulianto P. Prihatmaji berkesempatan menjadi salah satu narasumber dalam sesi forum kajian akademisi. Mengupas secara mendalam mengenai peran akademisi dalam menelurkan ide, gagasan, kreativitas, dan inovasi yang memberikan sumbangsih kepada suatu daerah agar memiliki “jualan kreatif” sebagai penguat identitas. Dalam hal ini salah satu project Sekolah Lurah, yaitu Bambooland menjadi salah satu contoh “Waralaba Gagasan” Sekolah Lurah dalam merestorasi pemanfaatan bambu menjadi berbagai macam bentuk produk kreatif dan inovatif dengan memberdayakan warga sekitar. selain itu pemanfaatan bambu dengan mengedepankan keberlangsungan & kelestarian hayatinya diharapkan akan menciptakan harmonisasi antara alam dengan manusia. Jargon OVMP (One Village Multi Product) adalah sebuah implikasi logis dari sinergitas antara akademisi, masyarakat setempat, dan potensi didalamnya yang coba direplikasi oleh Sekolah Lurah.  

ICCN berkomitmen untuk turut serta memajukan kota-kota kreatif di Indonesia. Yang dimaksud sebagai  sebagai kota kreatif adalah kota yang melakukan riset dan pengembangan untuk menumbuhkan pembangunan ekonomi dengan engine kreativitas (mesin penggerak kreativitas).

Mesin penggerak kreativitas itu berupa ide/gagasan yang kreatif dan inovatif yang ditopang oleh kelengkapan infrastruktur kelembagaan dalam keterlibatan unsur quadro helix (birokrasi, akademisi, bisnis, dan komunitas) serta adanya dukungan infrastruktur digital yang berkualitas dan modern.

Ketua Pelaksana ICCC 3, 2017, M Arief Budiman menyampaikan dalam laporan acara bahwa dalam penyelenggaraan selama 4 hari ini diikuti 600 peserta konferensi yang terdiri dari 4 aktor kota kreatif  yaitu 100 Pemerintah Daerah, 200 Pelaku Usaha.

Diolah dari berbagai sumber :

http://iccc3.iccn.or.id/

https://wonderfulsolo.com/iccc-2017-sukses-perdana-dihelat-di-solo-makassar-kini-jadi-tuan-rumah-konferensi-kota-kreatif/

http://www.netralnews.com/news/ekonomi/read/100117/iccc.3.makassar.jadi.ajang.membumikan.kr

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *