Ipal Komunal Mendiro Berdaya dengan Swadaya

Sebagai kabupaten yang tingkat pertumbuhannya tertinggi di DIY, baik perkembangan industri maupun permukimannya,  Sleman dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan lingkungan. Konsekuensi logis dari permasalahan  lingkungan tersebut tentu menimbulkan dampak, Baik dari segi skala maupun waktunya. Oleh sebab itu perlu adanya upaya pencegahan dan penanganan secara berkelanjutan. Salah satunya dengan penerapan terobosan & tekonologi tepat guna sebagai solusinya.

Sanitasi menjadi salah satu isu penting yang harus disikapi bersama karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Seiring bertambahnya tingkat kepadatan penduduk di Sleman berimplikasi terhadap timbulnya berbagai permasalahan berkaitan sanitasi. Sistem sanitasi yang kurang baik seringkali menjadi penyebab timbulnya berbagai penyakit seperti typhus, diare, kolera. Oleh sebab itu untuk mengatasi dampak terburuk dari pencemaran tersebut  diperlukan suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

IPAL atau Instalasi Pengolahan Air Limbah adalah sarana untuk mengolah limbah cair (limbah dari WC, dari air bekas cucian/kamar mandi). Yang familiar bagi masyarakat adalah IPAL untuk limbah WC atau lebih dikenal dengan sebutan septik tank. IPAL bisa dibangun secara pribadi atau digunakan untuk satu keluarga/ bangunan dan dioperasikan sendiri. Bisa juga satu IPAL digunakan bersama-sama atau biasa disebut IPAL Komunal. Komponen IPAL Komunal terdiri dari unit pengolah limbah, jaringan perpipaan (bak kontrol & lubang perawatan) dan sambungan rumah tangga. 

Salah satunya  IPAL Komunal yang menjadi percontohan nasional adalah IPAL komunal Mendiro yang berada di pedukuhan Mendiro, desa Sukoharjo, Kecamatan Sleman, Daerah istimewa Yogyakarta. Sebagai penerima Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS), IPAL Komunal Mendiro dibangun pada tahun 2015 dan selesai pada Februari 2016 dengan kapasitas 130 kepala keluarga. Sumber dana Program SANIMAS bersumber dari APBN yang dikucurkan melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum Dan Perumahan (PUPERA) senilai Rp. 400.000.000. selain hibah dari kementrian PUPERA, masyarakat juga turut berkontribusi secara mandiri sebesar Rp. 130.000/KK untuk biaya koneksi. Selain itu pemerintah kabupaten Sleman juga turut memberikan bantuan dalam bentuk pendampingan pemberdayaan masyarakat dan pelatihan-pelatihan.

Melalui program Sanimas ini masyarakat memilih sendiri sarana dan prasarana air limbah permukiman dengan membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang aktif menyusun perencanaan, pelaksanaan, serta operasi dan pemeliharaannya, dan bilamana memungkinkan untuk dikembangkan unit usaha sebagai upaya peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. “Seluruh proses kegiatan sanimas di pedukuhan Mendiro dilaksanakan oleh KSM Ngudi Mulyo mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan pembangunan dan pelaporan kegiatan pembangunan sarana sanitasi ipal komunal, masyarakat hanya kami tarik iuran sebesar Rp 7.500 per bulan untuk biaya operasional, Di samping itu, masyarakat kami himbau untuk melakukan perawatan & pemeliharaan sarana yang ada di masing-masing rumah, “papar Prapta Suharyana, ketua KSM Ngudi Mulyo.

Tak berhenti dengan pemanfaatan IPAL Komunal sebagai solusi mengatasi problem sanitasi air limbah masyarakat pedukuhan Mendiro, KSM Ngudi Mulyo melakukan beberapa pengembangan di sekitar lokasi IPAL Komunal. Hal tersebut sebagai upaya untuk memberikan penguatan dusun Mendiro yang kedepannya akan diarahkan menjadi wisata pendidikan berbasis lingkungan & sanitasi.

Beberapa pengembangan yang telah dilakukan diantaranya pendirian bank sampah dan TPS 3R bagi para penggguna IPAL Komunal dan masyarakat Pedukuhan Mendiro sehingga menjadi SANIMAS Terintegrasi (IPAL, Bank Sampah dan TPS 3R dalam satu lokasi), membudidayakan berbagai tanaman obat (herbal), rumput gajah mini yang ditanam di komplek IPAL Komunal serta pertanian hydroponic (dalam tahap uji coba pemanfaatan air olahan IPAL), Diatas bangunan IPAL juga terdapat Pojok baca sebagai sarana belajar masyarakat, selain itu untuk pengembangan ekonomi masyarakat, terdapat unit usaha Kafe “L” (Kafe literasi) yang menyediakan berbagai menu masakan ala angkringan & wifi gratis.

IPAL Komunal Mendiro sejak pertama kali difungsikan telah menerima berbagai kunjungan, dari instansi pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan masyarakat umum, baik yang ingin mengetahui seluk beluk IPAL Komunal, studi banding, penelitian & pengembangan, belajar sanitasi, atau sekedar memenuhi rasa penasaran saja. Selain itu bangunan diatas IPAL juga bisa difungsikan sebagai ruang pertemuan warga, penerimaan kunjungan, dan pelatihan – pelatihan.

Ditanya mengenai progres kedepan yang ingin dikerjakan oleh KSM Ngudi Mulyo sebagai pengelola IPAL Komunal Mendiro, Prapta Suharyana bersama masyarakat di pedukuhan Mendiro berkeinginan untuk mengembangkan IPAL Komunal Mendiro sebagai kawasan wisata edukasi berbasis sanitasi dengan fasilitas seperti taman, gazebo, bangunan untuk pertemuan yang lebih representatif, kolam renang, MCK yang memadai, serta beberapa wahana edukasi yang mendukung IPAL Komunal Mendiro sebagai bagian dari  “Enviroment and Sanitation Education village”. “lahan persawahan disamping IPAL Komunal ini rencananya akan menjadi lokasi pengembangan IPAL Komunal Mendiro, “Ujar Prapta Suharyana.

“Kami ingin warga secara swadaya berdaya dengan potensi yang mereka miliki, sejak awal kami memang menolak investor dari pihak luar, karena kami berkeyakinan dengan semangat gotong – royong antar warga membangun & mengembangkan potensi disini hasilnya bisa kami nikmati  sampai anak cucu. Namun kami juga tak menampik jika ada pihak – pihak yang menawarkan bantuan yang sifatnya hibah / CSR  akan kami terima dengan senang hati, “pungkas Prapta Suharyana. (EY)

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *