Take Action Sekolah Lurah & Pemkab Pacitan

Nota kerjasama yang sudah diteken antara pemerintah kabupaten Pacitan dengan Universitas Islam Indonesia beberapa bulan yang lalu kini mulai di implementasikan dalam kesepakatan – kesepakatan lanjutan. Sekolah lurah UII menjadi pemantik realisasi kerjasama yang segera akan dilaksanakan proses dan tahapannya. Realiasi kerjasama ini secara spesifik menyasar pengembangan & pendampingan desa – desa di pacitan. Sebagai lembaga yang berada di naungan Universitas Islam Indonesia, sekolah lurah telah menunjukkan berbagai kontribusi dalam hal pengembangan potensi perdesaan.

Bulan april 2018 menjadi awal dari realisasi kerjasama antara sekolah lurah dengan pemkab Pacitan. Pertemuan lanjutan (23/04/2018) antara pemkab pacitan dengan sekolah lurah  digelar di cengkir heritage resto & café. Pertemuan tersebut sebagai langkah konkrit untuk membahas lebih detail mengenai aspek kerjasama yang akan disepakati & dilaksanakan.

Kepala Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Pacitan, Drs. Cipto Yuwono, M.Pd diawal diskusi memaparkan rencana pengembangan beberapa desa di Pacitan, salah satunya berangkat dari studi kasus yang dilakukan pihaknya.

“Pacitan selama ini memiliki tingkat konsumsi ikan lele yang tinggi, tapi tingkat produksi ikan lele di pacitan belum bisa memenuhi kebutuhan lokal sehingga banyak disuplai dari daerah – daerah lain di sekitar Pacitan, Ada satu desa di pacitan yang berpotensi menjadi sentra budidaya lele dan memang sudah kita plot untuk pengembangannya, namun kendala di lapangan masih membuat program kami jalan di tempat, oleh sebab itu kami butuh kajian dari beberapa ahli untuk pengembangan selanjutnya, “Ujar Drs. Cipto Yuwono, M.Pd.

“kita ingin melakukan pendekatan kepada para kepala desa dan perangkatnya, sehingga nanti bisa menggandeng & mempengaruhi warganya berbuat sesuatu untuk kemajuan desanya, “imbuhnya.

Selain itu disampaikan juga mengenai rencana pemerintah kabupaten Pacitan untuk memunculkan desa – desa unggulan dari 12 kecamatan yang ada di Pacitan. Hal ini tentu membutuhkan tenaga ahi dibidangnya. Pemerintah kabupaten pacitan meminta kepada sekolah lurah untuk melakukan penjaringan desa – desa yang akan diprioritaskan pengembangannya di tahap pertama.

“kami harus mendahulukan desa – desa yang lebih siap terlebih dahulu, baik dari segi potensi desanya maupun masayarakatnya, sehingga jika ini berhasil, desa – desa lain di pacitan tentu akan tergerak mengikuti kemajuan desa yang dijadikan pilot project, “ujar Drs. Cipto Yuwono, M.Pd.

Direktur sekolah lurah, Dr. Yulianto P. Prihatmaji di sela – sela diskusi juga menyampaikan berbagai kegiatan & proyek kerjasama yang sudah dikerjakan Sekolah Lurah. “kami punya lokakarya sekolah lurah yang rutin diadakan setiap tahun, melibatkan 5 perwakilan untuk setiap partisipan desa, terdiri dari lurah / kades, sekretaris desa / kesra pembangunan, kelompok masyarakat, karang taruna, dan wanita desa, “ujar Dr. Yulianto P. Prihatmaji.

“Selama kegiatan lokakarya yang berlangsung selama 3 hari tersebut lurah / kepala desa diharapkan secara aktif memaparkan isu wilayah, rumusan masalah, dan usulan program, baik yang tercantum dalam RPJM Des maupun RKP Des, hal tersebut penting sebagai bahan kajian & rujukan sekolah lurah dalam menyusun output pengambangan berupa dokumen Peta Desa & Master Plan Desa, “imbuhnya.

Dr. Yulianto P. Prihatmaji juga mendorong kabupaten pacitan memiliki jejaring terkait pengembangan yang dilakukan, sehingga akselerasi pengembangan desa nya menjadi lebih cepat. Seperti kabupaten Sleman yang masuk dalam jejaring kota / kabupaten kreatif yang ditetapkan oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia) dengan mengangkat 3 subsektor, yakni subsektor film, animasi, dan video, subsektor kriya bambu, serta subsektor seni pertunjukan. “Kebetulan salah satunya kami yang menggarap itu, Bamboland di purwobinangun, pakem, Sleman, “imbuhnya. (EY)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *